Pernah ku bertanya pada jiwa
Tapi malah terbang menjadi bayangan
Tampak kabut mulai menghitam
Namun tak jua ku temukan makna

Ku biarkan sejenak ragaku terjaga
Menikmati pergumulan batin yang semakin rumit
Serumit pintalan benang pada selembar kain
Yang terlanjur kusut walau mampu ku urai

Aku berontak melawan tabiat
Tapi itu seperti mengharap percikan api dari genangan air
Kala aku berharap sesuatu yang tak mungkin terwujud
Itu sama dengan membangun harapan
di bibir jurang yang curam

Zaman pun tak betah menemaniku
Ia lari menjauh sebagai musuh yang menakutkan
Meninggalkanku larut dalam sulit yang tak mudah redam

Aahh…
Andai saja ku mampu memutar waktu
Sugguh tak ingin mengulang kisahku