Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi. Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih. Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu. Karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mau kedamaian. (Kahlil Gibran)

Tak ada seorangpun di dunia ini yang mampu hidup tanpa seorang teman. Entah itu teman yang baru saja dikenal, ataupun teman yang sudah dikenal sejak lama. Pada teman kadang kita bertanya, meminta bantuan, bahkan tak jarang kita juga berbagi bersamanya. Mengisi hari-hari bersama teman adalah hal yang sangat menyenangkan.

Tapi seperti halnya hidup, dalam bertemanpun kita kadang akan menemui badai dan kerikil-kerikil kecil yang tajam. Adakalanya teman membuat kesalahan, khilaf atau ada kebiasaan buruk padanya yang tidak kita sukai. Lantas haruskah kita menjauhinya? Jawabnya tentulah tidak.

Sangat tidak pantas sekali rasanya kita menjauhi seorang teman hanya karena satu atau dua khilaf dan kesalahannya yang tidak bisa diterima. Sementara yang ada padanya selebihnya adalah baik. Satu atau dua kesalahan itu masih dapat dimaafkan, dan kesempurnaan adalah tingkatan yang sangat sulit dicapai. Tidak adil menuntut kesempurnaan dari seorang teman, padahal diri kita sendiri tidaklah sempurna. Karena pada dasarnya memang tidak ada manusia yang sempurna.

Mencela teman itu lebih baik daripada harus kehilangan dirinya. Mencela yang dimaksud bukanlah menghina atau mencaci maki, melainkan mengatakan terus terang apa yang salah padanya, minta dia memperbaiki, lalu maafkanlah. Jangan hanya karena sedikit kesalahan dan dosa kecil yang sebenarnya bisa ditutupi oleh kebaikannya yang lebih banyak, kita menjadi jauh dari seorang teman yang pernah kita puji latar belakangnya, yang pernah kita terima kehidupannya, yang pernah kita ketahui kebaikannya, dan yang pernah kita ketahui kemampuan berpikirnya. Karena kita tidak akan mendapatkan seorang temanpun yang sempurna tanpa cacat dan cela sekalipun.

Coba posisikan diri kita padanya, tentu tidak enak bukan selalu dituntut kesempurnaan padahal diri kita tidak sempurna? Jadi maafkanlah kesalahan teman. Jangan rusak hubunganmu dengan teman hanya dikarenakan prasangka buruk, padahal engkau yakin benar akan kebaikannya. Hendaklah semua kekurangannya itu dialihkan ke dalam jiwa yang lapang dan damai.

Jika kau berteman dengan seorang teman yang memiliki rasa cinta…
Maka jadilah engkau seperti orang yang penuh kasih sayang.
Janganlah menghitung semua kesalahan setiap orang…
Sebab kau akan tinggal sepanjang zaman tanpa teman