image

Ibu…
Malam ini terasa begitu hening, nyaris tak ada suara apa pun. Hanya sesekali terdengar teriakan burung malam yang memilukan hati. Telah lewat tengah malam, tapi mata ini sulit sekali terpejam. Ku coba paksakan diri, tetap tak bisa. Ada bayangan bergelayut di mata, rasanya perih menusuk jiwa.

Ibu…
Apa kau sudah tidur? Apa yang sedang kau impikan sekarang? Apa bermimpi tentang aku? Atau malah tidak sama sekali. Aku merindukanmu ibu. Padahal baru kemarin kita bertemu, tapi entah kenapa aku sangat merindukanmu. Ku tatap rembulan dari balik kaca dinding kamarku. Ada perasaan haru terselip di kalbu. Aku ingat masa kecilku. Kau pernah mengajariku nyanyian sederhana tentang bulan, sambil menari kecil nan riang. Tapi maafkan aku ibu, aku sudah tak ingat lagi tarian itu, hanya syairnya saja yang masih terekam di memoriku. “Bulan..jauh tinggi di awan..mengapa engkau sendirian..mari turun ke bumi..bermain bersama kami..” Apa kau tau Ibu? Aku tak ubahnya seperti bulan itu. Tapi tak mengapa, aku masih punya dirimu.

Ibu…
Aku teramat merindukanmu. Ingin sekali rasanya bertemu. Ku ambil album usang merah jambu. Ada gambarmu disitu ibu, di satu tempat pengajian. Aku duduk di sebelahmu, memakai baju merah muda berenda, dan kaus kaki putih yang juga berenda. Rambutku panjang di kucir dua. Itu pasti kau yang meriasku kan Ibu? Ku buka lagi satu persatu. Ada lagi fotoku bersama almarhumah nenek. Dengan seragam merah putih, rambut panjang terurai dan sedikit acak-acakan, aku bergaya sambil memegang buku rapor. Ku ingat waktu itu aku baru pulang dari sekolah. Lalu ku buka lagi lembaran yang lain, dan aku berhenti pada satu fotoku di usia yang kurang lebih setahun. Memakai gaun putih bertali satu, dengan hiasan renda dan boneka lucu di bagian depannya. Aku memegang setangkai bunga krisan yang layu. Tapi Ibu..kenapa kau memberiku bunga yang layu..??

Ibu…
Biarkan aku sejenak mengenang masa kecilku. Masa-masa yang indah bagiku. Masa dimana aku selalu takut saat kau menakutiku dengan sisir dan gantungan baju. Ya..aku selalu takut saat kau mengancam akan memukulku dengan benda-benda itu. Aku juga ingat, saat hujan turun, aku merengek ingin mandi hujan. Kau melarangku dengan alasan tak ingin aku sakit. Tapi aku tetap ingin mandi hujan. Kau mengizinkan dengan syarat kau akan pergi meninggalkanku. Aku yang nakal tak peduli dengan syaratmu. Aku tetap mandi hujan. Tapi setelah itu aku sadari kau menghilang. Aku nangis dan berteriak mencarimu. Tapi ternyata kau sembunyi di belakang pintu. Sejak saat itu, aku tak pernah ingin mandi hujan lagi. Karena aku tak ingin kehilanganmu. Kau sungguh seorang Ibu yang luar biasa. Aku bangga padamu.

Ibu…
Dalam hati aku bertanya. Apa saat ini kau juga merindukanku? Apa aku hadir dalam mimpimu? Ibu..masih terekam jelas dalam benakku, saat idul fitri, saat aku duduk bersimpuh di hadapmu, saat aku memohon maaf atas semua kesalahanku. Dengan haru kau memelukku, ku rasakan ada tepukan hangat di pundakku. Lalu ku dengar suaramu lirih berbisik..”Kau harus hidup dengan baik”.. Sejenak aku menangis di pelukanmu. Terimakasih ibu..aku akan selalu ingat kata-katamu. Aku akan hidup dengan baik, itu janjiku.

Ibu…
Maafkan semua salahku. Ampuni atas kegagalanku. Tak ada yang bisa ku beri, hanya untaian doa untukmu di setiap sujudku. Berbahagialah Ibu dan tetap lah sehat. Aku menyayangimu Ibu…