Pagi yang dingin. Seperti biasa di cuaca sedingin ini aku selalu terserang flu. Ah aku lupa minum vitaminku sahur tadi. Ku lihat jam di dinding menunjukkan angka tujuh lebih enam menit. Tak mengapa, sebentar lagi matahari akan muncul dan aku bisa berjemur sebentar dan flu ku pasti akan sembuh, fikirku.

Pagi ini benar-benar sepi. Nyaris tak ada suara apa pun di sekitarku. Hanya suara gemercik air aquarium yang ada di sudut ruang tamu. Ku buka playlist lagu-lagu favoritku di laptop yang sejak subuh tadi ku nyalain. Ku putar pelan lagu Adelle Someone Like You. Walau begitu tetap saja masih terasa sepi.

Pagi yang basah. Ku singkap tirai jendela kamarku, ku lihat masih ada tetesan air sisa hujan tadi malam. Ku buang jauh pandanganku ke bukit kecil yang ada di ujung komplek rumahku. Masih ada sisa kabut di balik pucuk-pucuk pinus, dan matahari sedikit muncul di baliknya. Tiba-tiba…ah aku mencium sesuatu. Aroma parfum yang pernah ku kenal. Tapi tak ada siapa pun di kamarku. Aku mencari di setiap sudut rumah, tapi tak ada siapa pun. Aneh..benar-benar aneh, aroma itu begitu kuat, sepertinya dekat sekali denganku. Tapi tak ada siapa pun di dekatku.

Aku mulai ketakutan. Aku terduduk di sofa ruang tv. Dan….tiba-tiba muncul sesosok pria, bertelanjang dada, mengenakan kain layaknya pria di zaman kerajaan. Wajahnya bersih dan matanya teduh. Jika bisa ku gambarkan, dia lebih mirip Vic Zhou dengan gaya rambut gondrong yang nyaris sama. Ini hanya halusinasi, fikirku. Tapi tidak, pria itu masih tetap berdiri dua meter di depanku. Aku hampir mati ketakutan. Ku raih ponselku yang sejak tadi ada di sofa. Ku coba telfon kakakku, tapi tak bisa. Ku coba lagi, tetap saja tak bisa. Terakhir ku telfon temanku, tapi sial, sinyalku hilang. Entah Telkomsel yang lagi ngadat, atau karena hal lain, entah lah..aku tak bisa berfikir lagi.

Aku benar-benar ketakutan, sepertinya aku tak punya harapan lagi. Dalam hati aku cuma bisa berkata, …ya Allah lindungi aku… Jantungku semakin berdetak kencang, tanganku berkeringat, tapi pria itu malah tersenyum. Gila..aku hampir mati ketakutan tapi dia malah tersenyum, fikirku. Tiba-tiba jantungku seperti berhenti berdetak, seluruh sendi-sendiku seperti luluh lantak. Aku di kejutkan suara sms di XL ku yang ada di meja baca. Lalu…kemana pria itu? Dia menghilang, entah kemana. Aku terbaring lemas di sofa. Ku atur nafas yang sejak tadi tak beraturan. Dan aku bersyukur dia sudah pergi.

Sampai saat aku menuliskan ini, aroma parfumnya masih tertinggal. Dan ini bukan kemunculannya yang pertama kali. Semoga dia tak kan pernah datang lagi, karena aku benar-benar takut.