image

Aku duduk disini. Diam. Ku nikmati saat aku melewati detik-detik penantian. Hanyutkan rasa dan pikiranku untuk menerima kedatangan tamu agung. Ku ingat bagaimana langkah demi langkah perjalanan usiaku. Ku renungi tahap demi tahap waktu hidup yang telah aku lewati.

Sekarang, aku akan memasuki kembali sebuah bulan yang tak ternilai kemuliaannya. Sebuah bulan yang tak terbayar mahalnya oleh usiaku sendiri. Ramadhan, benar-benar bulan yang nilainya tak pernah tertandingi oleh materi apapun yang aku punya. Itu lah tamu agung yang akan ku terima tak lama lagi. Dia adalah bulan Allah yang membawa berkah, rahmat dan maghfiah. Di bulan ini lah nafas-nafas akan menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, amal-amal baik dilipatgandakan pahalanya, dan untaian do’a-do’a akan diijabah.

Aku diam disini dan ku lemparkan ingatanku. Di saat Ramadhan yang lalu, ketika nyaris aku tak melakukan persiapan istimewa apapun ketika menyongsong kehadirannya. Ku ingat kembali, berapa banyak Ramadhan yang hanya ku isi dengan memperbanyak tidur di siang dan malam harinya. Berapa banyak Ramadhan yang ku sibukkan dengan hanya merencanakan menu makanan untuk sahur dan berbuka. Berapa banyak detik-detik akhir Ramadhan yang justru lebih sering ku korbankan untuk memikirkan baju baru dan haru biru hari raya. Berapa banyak hari-hari Ramadhan yang aku lalui dengan berkata dusta, menghujat, menggunjing orang lain dan riya.

Ya Allah…maafkan aku jika ternyata belum mampu merasakan nikmatnya Ramadhan yang mulia. Jangan lah jadikan aku golongan orang yang terbelenggu ketika Ramadhan.

Seandainya Allah memanjangkan umurku sampai bulan Ramadhan yang tak lama lagi akan ku jelang, akan ku tanamkan perasaan bahwa ini adalah Ramadhan terakhir yang akan aku lewati. Karena mungkin saja setelah Ramadhan ini, tak kan ada lagi kesempatanku menghirup rahmat Allah di bulan yang sama. Tak pernah ada lagi kesempatanku untuk berpuasa Ramadhan. Tak pernah ada lagi kemungkinanku mengucap istighfar memohon ampunan dari dosa di bulan saat pintu taubat dan pintu surga terbuka lebar. Tak ada lagi waktu membaca Al-Qur’an. Tak ada lagi peluang untukku bersedekah, berinfaq dengan lipatan pahala yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Marhaban Yaa Ramadhan…