Ini malamku..
Malam specialku..
Seharusnya..
Tp tidak..

Aku tak ingin tertawa
Aku tak ingin tersenyum
Ku tak mau bersenandung
Aku benci..

Aku hanya ingin menangis..
Terus menangis..
Tergugu..

Di sudut kamar..
Di kursi tamu..
Di meja makan..
Dimana saja aku bisa menangis

Aku rindu
Entah pada apa
Entah pada siapa

Aku sepi
Entah pada apa
Entah pada siapa

Cicak menatapku tega
Seolah berkata tenanglah
Nyamuk menyambarku lara
Mengibaskan sayap membuatku tetap terjaga

Biarkan saja..
Ku tak peduli cicak
Ku tak peduli nyamuk

Aku hanya ingin menangis..
Terus menangis..
Tergugu
Terisak sendat sampai tak lagi ku temukan nafas..

Benar..

Kau dulu segalaku

Benar..

Kau dulu seperti nyawaku

Benar..

Kau dulu hidupku

Benar..

Tanpamu dulu ku tak mampu

 

Tapi itu dulu..

Dulu..

Dan dulu ku selalu terluka

Terlalu sering ku merana

Terlalu  kerap ku kecewa (lebih…)

Entah untuk yang kesekian kalinya
Ku intip kau yang sedang mengintip [ ku ]
Ku tatap mata indahmu
Ku balas senyum yang kau berikan
Aku tahu senyum itu bukanlah untukku
Tapi biarlah ku akui saja senyum itu untukku

Mudah sekali menghadirkanmu, Dewiku
Hanya dengan ku tutup kedua kelopak mataku
Kau langsung hadir di depanku..di sampingku
Hanya dengan mempertajam telingaku
Aku langsung dapat mendengar merdu suaramu
Hanya dengan sedikit ku pertajam hidungku
Aroma wangimu langsung berlomba memenuhi hati dan jantungku

(lebih…)

Kau tau kenapa Tuhan menciptakan kita berdua?
Itu supaya kita tetap bersama
Tapi kenapa kau sembunyi..?
Lari menjauh seakan tak ingin kembali

Bukankah aku ini lautmu..
Tempat berjuta rahasiamu
Bukankah aku juga langitmu..
Tempat seluruh gelak tawamu (lebih…)

Entah darimana asal rasa..ku temukan rasa. Dia masuk begitu saja. Menyusupi pori-pori laksana suntikan serum. Mengacau di aliran darahku. Menyusuri tiap rongga-rongga tanpa bisa ku cegah. Melesat jauh tak terkendali mengarah tepat ke titik hati.

Dan kemudian membuncah..memenuhi isi kepala (lebih…)

Membawa bingkaian hati yang tetap utuh
Aku pulang..
Menyapa kembali ragamu
Mengembalikan rasa yang pernah tertunda
Yang sempat menguap oleh sebuah kata
Ego..

Ya..
Ego membawaku pergi jauh
Meninggalkanmu meski kau luruh
Menyisakan bait luka yang tak bisa kau tawar
Yang tiada kering meski masa tlah bertukar

(lebih…)

Balada pertarungan hati terasa kian rumit
Antara kata ya dan tidak
tak lagi mampu ku pilih
Aku bergumul sendiri
Merangkak ketika ku jatuh
Lalu lari berjingkat mengejar asa yang
tampak abu-abu

Aku tak setegar karang
Aku tak seteguh matahari
Aku hanyalah bunga pasir
Yang tampak indah dan berkilau di luar
Namun hancur dan roboh saat tersapa air

(lebih…)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 203 pengikut lainnya